Apakah anda punya hobi mendaki gunung? Apa sih yg sebenarnya anda cari? Cobalah anda perhatikan ketika akan mendaki, semangat anda pasti membara, segala rintangan di depan anda pun, libas! Begitu sampai puncak, apa yang anda rasakan? Pasti anda merasakan yg aaah…otak
anda bergetar, yg anda nikmati puncak sensasi kenikmatan.. Namun sekarang anda perhatikan, berapa lama rasa nikmat itu? 5 menit, 10 menit? Singkat sekali ya, nggak sepadan dgn waktu mendakinya. Coba lain waktu anda daki gunung yg sama dua atau tiga kali, anda pasti tidak akan merasakan sensasi kenikmatan seperti saat pertama kalinya. Otak anda tidak akan menerima sesuatu yang sama diulang-ulang, otak akan bosan… untuk menikmati kembali sensasi yang hilang tersebut, anda harus mendaki gunung yang lain dan yang lebih tinggi tentunya. Hal yang sama pun bisa terjadi pada ibadah haji yang dilakukan misalnya yang keberapa kali. Pada saat haji pertama, begitu melihat Ka’bah… wah rasanya sangat ruarr biasa bahkan bisa menangis… eh begitu melakukan ibadah haji yang ke sekian.. melihat ka’bah menjadi sesuatu yang lumrah dan biasa saja.. terharu pun mungkin tidak. Ini artinya apa?
Hati-hati bila kita beribadah hanya menggunakan otak saja, anda akan bosan dan menganggap ritual ibadah tidak berbeda dengan kegiatan lainnya, makan misalnya. Artinya kita harus melibatkan hati ketika melakukan sesuatu, apalgi ibadah…. nah loh mao ketemu Allah kok pake otak.